Heyo guys, I am sorry today I will write in Bahasa Indonesia instead of English. Nothing much, just feel like doing so… =)

Entah kenapa hari ini rasanya gw pengen post pake indo aja, kadang2 gw uda bisa lupa bahasa indo yg bener n english gw kacau. So, buat ganti suasana gw mutusin pake indo sekalian latihan nulis pake indo. (walaupun bukan indo yg baku :p)

.

Terkadang, gw ga ngerti sama apa yang terjadi di sekitar gw, manusia-manusianya dan juga keadaannya. Gw tau dan sadar kalo buat ngertiin seluruh isi bumi ini hal yang tidak memungkinkan. Tapi, yang bikin gw bingung sekarang adalah gw ga ngerti gw sendiri, temen-temen gw, keadaan yang lagi menimpa gw ataupun mereka. Seakan-akan gw hidup tanpa “consciousness” tentang apa yang terjadi di sekitar gw. Dan hari ini gw tiba-tiba tersadar akan itu.

.

Bertahun-tahun, gw mencari arti dari hidup gw, namun gw sendiri bahkan ga ngerti akan diri gw sendiri sebenarnya. Bagaimana mungkin gw mengerti akan arti hidup, mempelajari apa yang gw mao, apa yg gw bener-beber suka, apa yang gw yakini, apa yang gw ketahui, apa yang gw kerjakan, apa yang gw kejar, apa yang gw impikan. Sebagian adalah ketidakpastian, tapi sebagian lagi adalah benar belum kuketahui sampai sekarang.

Pernah suatu hari gw bertanya pada diri gw sendiri, apa keunikan dari diri gw, apa yang bisa membuat orang-orang mendeskripsikan gw dan orang yang lain akan tau klo itu gw. Hari itu gw gagal, tak tahu akan apa keunikan gw sendiri, bahkan gw ngerasa seperti hidup di dunia yang terus berputar, dengan orang-orang yang silih berganti masuk ke kehidupan gw. Sebagian hanya berkunjung di hidup gw hanya untuk beberapa menit, ada pula yang beberapa jam, beberapa hari, beberapa bulan, dan bertahun. Tapi, tak ada satupun dari mereka yang bisa gw mengerti dan mereka tak bisa mengerti gw.

Okay, let say orang-orang yang hanya mengenal gw dalam beberapa hari, mungkin mereka seakan-akan mengetahui gw orang yang seperti apa. It’s justified, dan gw juga ga berharap mereka akan mengerti diri gw dalam beberapa hari tersebut. Namun, beberapa orang di dalam hidup gw yg sudah menjadi bagian hidup gw bertahun-tahun pun tidak bisa mengerti gw. Terkadang, mereka terlihat seperti orang asing, terlalu asing untuk mengenalinya. Tidak akan mungkin untukku untuk 100% mengerti mereka dan sebaliknya. Itulah akar dari kebingungan gw selama ini.

Mengapa manusia begitu kompleks? Atau lebih dari kata “kompleks” itu sendiri?

Manusia yang pertamanya asing bisa menjadi teman baik, manusia juga bisa menjadi teman baik hari ini, musuh kemudian, suka dan benci silih berganti, seseorg yang jujur menjadi pembohong, seorang yang terdekat menjadi seorang yang seakan-akan hanya muncul di mimpi dan tidak pernah bertemu… atau apapun yang bisa terjadi. The complexity of human being will not be answerable with logic.

Orang-orang yang sudah kuanggap jiwa gw, orang-orang yang sudah menjadi bagian terpenting dari hidup gw, orang-orang yang selama ini gw percaya, orang-orang yang selama ini gw sayangi, orang-orang yang memberikan bantuan yang lebih besar dari pada yang kuberikan pada mereka. Bisa saja tiba-tiba menghilang. Di sini gw tidak mengartikan hilang dari dunia ini, tapi dari hidup gw.

Tidak ada satu penjelasan yang cukup untuk menjelaskan mengapa mereka menghilang. Tanpa pertengkaran, tanpa perkelahian, tanpa kebencian, tanpa mengucapkan selamat tinggal, mereka hilang begitu saja. Sedih, kecewa, akhirnya gw menerima kepergian mereka. Sudah ku anggap mereka bener-bener hilang dalam hidup gw yang akan gw jalani bertahun-tahun kedepan.

Namun, tidak segampang membalikkan telapak tangan ketika menghapus semua memory yang uda melekat kuat di setiap hal yang gw kerjakan. Bahkan, setelah lama gw mencoba menghapus, tetap saja memory itu akan muncul tanpa gw sadari. Sekarang hanya sedikit, seberkas dan mungkin detailnya sudah sayup2 meninggalkan sel-sel memory gw. Ada saat-saat gw bakal mengasosiasikan apa yang gw kerjakan ke suatu kejadian. Ibaratkan memory itu adalah helaian kertas yang tersusun tidak begitu rapi, kejadian itu sudah di tumpuk oleh lapisan-lapisan lain diatasnya. Helaian di bawah terlihat samar, namun tidak akan pernah hilang, sebenarnya. Helaian kertas itu suatu hari akan menjadi “Buku”mu, satu-satunya.

from flickr

Ketika kita kira semua sudah tinggal berkas-berkas di memory, orang-orang itu muncul mengejutkan dan mengaktifkan locus-locus yang tersambung ke setiap helai kertas-kertas memory. Mereka seakan-akan membalik-balikkan lapisan-lapisan kertas tersebut. Membuka kelembaran tepat dimana orang-orang itu tetulis jelas di permukaannya. Semua terlihat jelas kembali, bahkan setiap detail akan terbaca ulang kembali.

Kadang itu membuat mu tersenyum lebar, kadang itu hanya membuat mu terluka. Apapun itu, mereka kembali dan ga ada yang bisa menutup atau menghapus helaian kertas penuh coretan orang tersebut, termasuk dirimu sendiri. Biarlah, bagaimana kamu melihat kembali helaian kertas itu yang penting. Bukan coretan-coretan kotor itu, bukanlah goresan-goresan indah itu, juga bukan cerita-cerita itu.

.

Seandainya, sebagai manusia bisa melihat semua tulisan di kertas-kertas itu dengan positif, menghargai setiap helainya, dan menghormatinya sebagai seberkas satu-satunya novel terbaik yang masih ditulis kelanjutannya, kamu pasti tidak akan pernah merasa menyesal, sebaliknya itu membuatmu: bangga.

Namun, dirimu perlu mengingat bahwa helai-helai kertas sebelumnya sudah memiliki cerita yang tidak bisa kita hapus, apa yang bisa dilakukan hanya melanjutkan cerita-cerita tersebut, menjadikannya satu-satunya novel yang akan kamu hargai dan sayangi. Bukan hanya mereka yang bisa menulis helaian kertas mu, tapi dirimu juga memutuskan untuk menulisnya. Ketika mereka menulis coretan kasar, dirimu harus bisa membuat cerita setelahnya mencari hikmah dan melanjutkan cerita hidupmu.

.

.

Sangat mungkin beberapa orang yg telah hadir di dalam hidup gw telah merobek kertas-kertas yang gw tulis di dalamnya. Hanya itu alasan yang bisa gw asumsikan ketika mereka menghilang dan terlihat sangat asing. Ataukah gw yang merobek tulisan itu dari mereka? Gw ga pernah tau dan sadar.

Manapun itu, gw berharap gw tidak pernah merobek helaian kertas yang telah berisi coretan, goresan yang menceritakan diri gw atau diri mereka dari buku gw atau buku mereka, baik ataupun buruk isinya, indah ataupun jelek goresannya.

Gw hanya berharap gw bisa mengerti lebih banyak tentang mereka dan tentang diri gw sendiri. Hanya satu impian gw, menuliskan apapun yang tidak di robek, tidak dibuang dan tulisan itu masih berbekas dalam dan jelas bertahun-tahun lamanya ataupun hanya tulisan dalam beberapa detik jam. Terlalu naif mungkin, namun itulah sesuatu yang gw ingin sampaikan kepada orang-orang di dunia ini.

Tidak ada orang yang sempurna, begitupun “buku” itu mungkin tidak akan sempurna. Walaupun tidak sempurna, ga ada seorang pun yang merobeknya karena itu akan sangat sulit dan sakit. Bekas robekan itu akan di sana selamanya. Hargailah apa adanya…


Lalu bagaimana gw menjawab kembali pertanyaan “mengapa manusia itu kompleks? atau lebih kompleks?”

Karena manusia mempunyai buku tersebut, buku yang mungkin mereka sudah putuskan untuk menulisnya sedemikan rupa. Mungkin mereka telah membuka helaian baru dan menulis dan dengan sengaja menumpukkan memory tentang kita dengan helaian lain karena “alasan yang tak pernah kita tau”. Mungkin itu terbaik menurut mereka.

Kadang bukan hanya mereka yang menulis, namun juga orang-orang yang terhubung dengannya. Yang bisa membacanya hanya mereka sendiri atau harus dibantu dengan orang-orang yang telah menulis di dalamnya. Itulah akibatnya mengapa sebagian orang bisa terlihat asing walaupun kita uda mengenalnya bertahun-tahun. Itulah alasan mengapa kita ga pernah akan mengerti seseorang 100%. Bahkan mereka sendiri pun membutuhkan orang lain untuk membaca dan mengerti.

Tapi bukanlah berarti kita tak bisa mengerti sama sekali, kita akan mengerti ketika mereka menceritakan apa yang mereka ingat. Sharing… that’s the only way I can think of 🙂

.

I am off.

rhynchan~

Img src: Flickr
Advertisements